Rekonsiliasi Keluarga GKI Kelapa Cengkir

Hai, jumpa lagi dengan aku, Si Penjelajah Waktu. Kiliali ini aku ingin membagi pengalaman penjelajahanku tentang keluarga.

Di waktu-waktu ini, sepertinya bukan aku saja yang merasakan munculnya gejala kondisi ‘dekat tetapi jauh’, di mana banyak anggota keluarga yang meski secara jarak mereka dekat sekali namun merasa jauh.  Hal itu menyebabkan terjadinya rasa saling asing diantara angggota keluarga. Kebersamaan antara anggota keluarga yang terjadi pada generanasi sebelumnya sepertinya menjadi hal yang sangat jarang terjadi sekarang ini. Jika dulu aku masih mudah merasakan ‘we time’ bersama kedua orang tuaku, sekarang aku merasa kesulitan untuk ‘we time’ dengan anak-anakku. Mungkin karena saaat ini masing-masing anggota keluarga juga sibuk dengan tugas dan usrusannya sendiri. Bahkan nampaknya mereka sangat menikmati ‘me time’ mereka sendiri-sendiri. Tak terasa sepertinya aku jadi merasa asing dengan anak-anakku. Apakah ini  yang dinamakan perkembangan zaman? Teknologi – khususnya komunikasi – sudah berkembang sedemikian pesatnya. Mereka yang jauh berhasil didekatkan oleh teknologi komunikasi, namun ironisnya yang dekat jadi jauh karena masing-masing sibuk dengan HP-nya masing-masing. Yah, ‘dekat tetapi jauh’ ..!

Aku pun berusaha mencari rujukan-rujukan kiat-kiat untuk tetap menciptakan kebersamaan di dalam keluarga. Dan aku menemukan sebuah buku tuliasan Jeannetta Suhendro & Timoteus Talip, judulnya Love = Time + Attention.  Sebuah buku yang menarik, sebab penulisnya berusaha menjelaskan idenya dengan cara ‘bermain-main’ dengan kata-kata. Dlam buku ini mereka berdua menyebut Love sebagai singkatan dari Let Our Value be Enhanced (nilai-nilai yang harus dikembangkan), sementara Time sebagai singkatan dari To Increase more Engangement(menumbuhkan kebersamaan). Sedangkan Attention, yang terdiri dari 9 huruf itu disusun menjadi 9 pilar kebahagiaan, yaitu: Time (merujuk pada quality time), Attention (memberikan pujian, komenter positif),Unconditional Love(masing-masing anggota keluarga, khususnya dari orng tua kepada anak), Communication (bagaimana komunikasi terjadi dua arah), Respect (bagaimana masing-masing anggota keluarga saling memberikan hormat dan penghargaan), Trust (membangun rasa saling percaya), Consistency (selaras antara kata dan perbuatan), commitment (komitmen bersama), dan Spiritual (kedekatan relasi antara setiap anggota keluarga dengan Tuhan). Aku mmebuat kesimpulan sederhana bahwa untuk menciptakan kebersamaan di dalam  keluarga, maka kasih menjadi adalah kuncinya  dan mesti diwujudkan di dalam bentuk upaya mengembangkan nilai-nilai Kristiani melalui 9 pilar kebahagiaan.

Aku jadi teringat nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose, di mana ia mengingatkan bahwa setiap orang percaya adalah orang-orang pilihanan yang telah dikasihi dan dikuduskan. Sebuah anugerah yang mesti disyukuri melalui setiap tindakan di dalam hidup, termasuk juga di dalam berkeluarga. Bahkan secara lebih jelas Rasul Paulus meminta setiap orang yang telah dipilih itu untuk mewujudkan: belas kasihan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Aku yakin, jika setiap anggota keluarga m elakukan nasihat ini, niscaya rekonsiliasi keluarga akan terjadi sehingga kebersamaan akan menjadi berkat yang dirasakan oleh setiap anggota keluarga.

Selamat berjuang saudaraku, Tuhan Yesus memberkati. Amin (GJS).

You May Also Like

About the Author: gkikelapacengkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *